Bias Kesuksesan
"Sukses versi lu apa sih?"
"Kebebasan absolut"
"Haha lawak"
Kesuksesan dewasa ini digunakan sebagai alat ukur untuk untuk membuat kelas-kelas sosial diantara manusia. Individu maupun kelompok. Kesuksesan seringkali dihubung-hubungkan dengan keberhasilan untuk mencapai tingkat kekayaan ataupun jabatan tertentu.
Dilansir dari IDN Times, Thomas Edison menjelaskan bahwa kesuksesan adalah 1 persen dari inspirasi, dan 99 persen dari keringat. Meskipun saya rasa, angka-angka dalam persenan tersebut hanya simbol saja, namun tetap saja, bisa disimpukan bahwa kesuksesan menurut beliau adalah suatu hal yang berkaitan dengan usaha dan kerja keras manusia (yang di analogikan dengan keringat), dengan sedikit sekali saja inspirasi yang dibutuhkan. Rasanya saya ingin bertanya dengan bapak Edison, jika bagi saya kesuksesan adalah kemampuan untuk mengumpulkan inspirasi sebanyak-banyaknya dengan usaha sekecil-kecilnya, apakah saya bisa dikelompokkan sebagai individu dalam kelas yang paling tidak sukses di dunia?
Tokoh lainnya, Mark Zuckenberg memberikan pernyataan tentang sebuah kesuksesan. "Beberapa orang memimpikan kesuksesan, sementara yang lain bangun dan bekerja keras untuknya". Sama halnya dengan pernyataan sebelumnya, kalimat ini juga memposisikan kesuksesan sebagai buah dari kerja keras. Saya tidak mengganggap pernyataan tersebut sebagai suatu hal yang tidak benar. Hanya saja, pernyataan tersebut hanya akan pas ketika di ungkapkan untuk memotivasi seseorang yang ingin mencapai kesuksesan yang hanya dapat dicapai dengan kerja keras, mungkin saja kesuksesan dalam bisnis ataupun yang lainnya.
Dilain sisi, saya menghargai nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang penulis kawakan, Soesilo Ananta Toer, yang kesehariannya ia isi dengan kegiatan memulung. Jalan hidup memulung tidak ia anggap sebagai suatu kesialan hidup atau suatu ketidak suksesan. "Saya menikmati apapun proses kehidupan", ujarnya. Ya, kesuksesan bisa juga dilihat dari bagaimana manusia menikmati hidupnya, kesenangan-kesenangan yang ia dapatkan melalui karya yang dihasilkan, pikiran-pikiran brilian yang bahkan tidak pernah diutarakan, mimpi-mimpi gila yang bisa saja direalisasikan ataupun tidak, rasa syukur yang berkelanjutan dan lain sebagainya. Kesuksesan bisa saja sangat jelas bagi suatu individu, namun dilihat dengan pendekatan yang lain, kesuksesan adalah suatu hal yang bias.
Tidak ada ukuran baku yang dapat menggolongkan apakah seorang manusia dapat dikatakan sukses, setengah sukses, ataupun tidak sukses. Tidak pernah ada kesepakatan bersama yang menyebutkan bahwa tingkat kesuksesan seseorang identik dengan seberapa banyak uang yang dimiliki, koleksi barang mewah, jabatan-jabatan dan lain sebagainya. Walaupun nyatanya, hal-hal tersebutlah yang seringkali digunakan sebagai parameter kesuksesan seseorang. Fenomena tersebut memang biasa terjadi, namun apakah kita akan ikut mewarisi anggapan-anggapan semacam itu? tentu itu juga pilihan.

Relativitas sukses dipengaruhi zamannya. Sebelum merdeka sukses punya makna yg berbeda dg zaman awal-awal kemerdekaan. Era sekarang sebagian besar orang memaknai sukses dg seberapa banyak materi yg bisa dimiliki seseorang. Ada juga yang punya standar dobel yg terucap dg yg ada dlm benaknya berbeda dalam memaknai sukses. Ingin rasanya membedah konsep suskses yg ada dlm pesan doa, hasanah fiddunya, hadanah filakhirah di situlah makna sukses itu ada.
BalasHapusSukses jaman doeloe itu bisa nyekolahin anak sampe sarjana,, jaman sekarang anak anak mikir sukses itu dari banyak nya followers banyak endorse banyak harta tapi banyak juga yang mencapainya dg cara ga bermoral,, #miris
BalasHapus