Ruang Perpustakaan yang Berisik adalah yang Terbaik



Ruang Perpustakaan, Riwayatmu Kini

Dari seluruh ruangan di gedung sekolah saya dulu, karpet yang paling jarang di-laundry bisa jadi adalah karpet di ruang perpustakaan.  Selain sebab adanya larangan membawa makanan ke ruang perpustakaan, juga larangan berjualan jajanan di ruang perpustakaan, karpet di ruang perpustakaan dijamin akan selalu bersih karena ruangan ini selalu sepi pengunjung, dan seringkali dianggap sebagai ruang yang minim hiburan dan membosankan bagi para siswa, termasuk saya.  

Rasanya tidak perlu lagi memasang himbauan bertuliskan dilarang berisik di lingkungan perpustakaan karena memang sama sekali tidak perlu. Untuk apa petugas perpustakaan memberikan himbauan dilarang berisik untuk dirinya sendiri? Mubadzir.

Situasi seperti ini sepertinya tidak hanya dialami ruang perpustakaan sekolah saya saja.  Hal ini bisa dilihat dari banyak sekali ulasan media mengenai rendahnya minat baca penduduk di Indonesia, yang menurut saya, tentu saja, beriringan dengan rendahnya minat kunjung penduduk Indonesia ke perpustakaan.  

Belakangan, media santer menyebutkan predikat Indonesia sebagai negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak nomor 2 di dunia setelah India.  Sayangnya, PISA (Programme for International Student Assesment) yang digagas oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) menyebutkan, kemampuan penduduk Indonesia perihal literasi-yang mencakup kemampuan membaca, berada pada peringkat 62 dari 70 negara.  

Mengacu pada kedua data yang saling timpang tersebut membuat saya berpikir bahwa keberadaan perpustakaan yang banyak sekali di Indonesia ini adalah kesia-siaan saja.  Coba bayangkan, negara kita menyandang predikat sebagai negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak nomor 2 di dunia setelah India.  Namun, juga menyandang peringkat di urutan terbawah sebagai negara dengan penduduk yang berkemampuan literasi rendah.  Padahal, kemampuan literasi salah satunya dapat ditingkatkan dengan aktivitas membaca yang bisa dilakukan di perpustakaan.  Dengan kata lain, Indonesia memiliki banyak perpustakaan, namun tidak banyak dari buku-bukunya yang dibaca.  sekali lagi, ini Mubadzir.

Saya mulai berpikir bahwa perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang berpenghuni, perpustakaan yang berisik.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Seharusnya didapat Perempuan Menstruasi

Baso Aci Lebih dari Sekedar Baso Aci

Menstruasi dan Hal-Hal Ghaib yang Menyertainya